BAB V - Kesimpulan

3 min read /
Mikrobiota Usus Nutrisi, Kesehatan dan Kebugaran
Gut-Brain Axis Dalam Kesehatan Anak: Tinjauan Komprehensif
Gut-brain axis adalah jaringan kompleks yang melibatkan interaksi antara berbagai sistem organ, termasuk sistem saraf, sistem imun, dan aksis hipotalamus-pituitari-adrenal, melalui perantara seperti jalur neuronal, neurotransmitter, dan metabolit mikrobiota. Gangguan perkembangan mikrobiota usus dapat berdampak pada sistem imun dan saraf, disebabkan oleh faktor seperti metode persalinan, usia kehamilan, pola makan, dan penggunaan antibiotik. Nutrisi dan perubahan pola makan dapat memengaruhi komposisi mikrobiota usus serta menjadi intervensi yang efektif dalam jangka panjang. Probiotik dapat membantu mengatasi disbiosis, tetapi diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum implementasinya dalam praktik klinis. Mikrobiota usus juga berpotensi sebagai biomarker penyakit dan prediktor respons vaksin untuk tatalaksana yang lebih presisi di masa depan.

Gut brain axis merupakan suatu jaringan yang kompleks dan tersusun oleh berbagai sistem organ. Jaringan ini dapat berinteraksi antara satu dengan lainnya melalui berbagai perantara seperti jalur neuronal, neurotransmitter dan metabolit mikrobiota, sistem imun dan aksis hipotalamus-pituitari-adrenal.

Adanya gangguan pada perkembangan mikrobiota dapat berdampak terhadap perkembangan sistem imun dan saraf. Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi komposisi mikrobiota usus, seperti metode persalinan, usia kehamilan, pola makan serta penggunaan antibiotik. Gangguan pada komposisi mikrobiota atau sering disebut sebagai disbiosis tidak hanya berdampak terhadap gangguan saluran cerna, tetapi juga dapat berdampak terhadap sistem imun serta perkembangan neurokognitif anak. Oleh karena itu, mikrobiota usus memainkan peran penting dalam tumbuh kembang anak.

Nutrisi memiliki peranan dalam membantu menjaga keseimbangan komposisi mikrobiota usus. Perubahan kebiasaan pola makan dapat berpotensi metode intervensi diet yang lebih efektif mengingat dampak jangka panjang terhadap komposisi mikrobiota usus jika dibandingkan dengan perubahan pola makan jangka pendek. Selain itu, probiotik dapat berperan dalam memperbaiki kondisi disbiosis. Akan tetapi, penelitian saat ini masih menggunakan variasi strain probiotik yang sangat beragam serta dengan waktu yang berbeda-beda, sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut sebelum probiotik dapat digunakan dalam praktik klinis sehari-hari.

Mikrobiota usus berpotensi memiliki peran sebagai biomarker suatu kondisi penyakit serta dapat memprediksi respons imun seseorang terhadap vaksin. Di masa depan, komposisi dan fungsi mikrobiota usus dapat bermanfaat sebagai pedoman untuk memberikan tatalaksana pasien yang lebih presisi serta spesifik untuk meningkatkan luaran pasien.

 

cover both
Muzal Kadim, MD, Ph.D, Sp.A(K)

Muzal Kadim, MD, Ph.D, Sp.A(K)

About Author